Penetapan Daftar Calon Sementara Partai Golkar Kab. Bandung Mengecewakan

SOREANG-Firman B Sumantri, mengaku kecewa terkait penetapan daftar calon sementara (DCS) anggota legislatif DPRD Kab. Bandung. Sebelumnya kasus serupa juga menimpa caleg daerah pemilihan (Dapil) 5 (Solokanjeruk, Majalaya, dan Kec. Paseh).

Firman, kader partai Golkar ini berada di nomor urut 3 bakal calon legislatif (bacaleg) DPRD Kab. Bandung daerah pemilihan 6 (Kecamatan Baleendah, Ciparay, Pacet dan Kertasari). Sementara, Dagus Macan dan Hj. Hadiani berada di nomor urut 1 dan 2.

Padahal, kata Firman, hasil kepatutan dan kelayakan yang melibatkan tim independen perguruan tinggi, dia berada diperingkat pertama dapil 6 dengan nilai 40,5, sedangkan Dagus Macan dan Hj. Hadiani memperoleh nilai 37 dan 34.

”Lantas apa yang dijadikan patokan mengenai penetapan daftar calon sementara (DCS) Partai Golkar,” tukas Firman setengah bertanya kepada Soreangonline.com, Selasa (14/5/2013) siang.
golkar 5
Ketua DPD Partai Golkar Kab. Bandung, H. Hilman Sukirman mengelak jika penetapan DCS itu tebang pilih dan adanya titipan dari pihak pihak tertentu.”Ditetapkannya Dagus Macan di nomor urut satu pertimbangannya, dia adalah Ketua Lembaga Pendidikan Kader dan Wakil Ketua Bapilu Partai Golkar Kab. Bandung,” jelasnya.

Sebelumnya, para kader Partai Golkar Kec. Solokanjeruk, Majalaya, dan Kec. Paseh, Kab. Bandung di wilayah Daerah Pemilihan (Dapil) 5 mengaku kecewa. Mereka menilai penetapan daftar calon sementara (DCS) anggota legislatif DPRD Kab. Bandung terkesan tebang pilih.

Misalnya, Enni yang merupakan bakal calon legislatif dari Dapil 5 dikabarkan tidak lolos. Padahal, hasil uji kepatutan dan kelayakan tim independen perguruan tinggi, Enni memperoleh nilai 31,5 menempati urutan dua dari perwakilan kaum perempuan dan urutan tiga dari bakal calon keseluruhan. Ironisnya, bacaleg yang memperoleh nilai 29,5 yang ada di bawah Enni diisukan lolos dan masuk DCS.

Muncul pertanyaan, apakah ada jaminan bahwa caleg nomor urut buncit pasti lebih baik dibanding caleg nomor urut kecil ?. Jawabannya tidak ada jaminan untuk itu. Sebab, caleg nomor urut paling buncit adalah penyumbang paling kecil terhadap parpolnya dibandingkan caleg di nomor urut kecil.

Menurut catatan Soreangonline.com, para caleg yang ada di nomor urut paling kecil adalah caleg yang paling besar menyumbang terhadap parpolnya. Sehingga sudah bukan rahasia lagi, banyak caleg yang rela menyerahkan uang sampai ratusan juta kepada parpol untuk bisa memperoleh nomor urut kecil tersebut.

Menanggapi adanya caleg yang sumbangan uangnya paling kecil (atau bahkan tidak menyumbang uang sama sekali) kepada parpol,kemudian ditempatkan di nomor urut buncit, Ketua Golkar Kab. Bandung, Hilman Sukirman hanya tertawa lebar. (bung wir)**

Tinggalkan Balasan