Category: Pariwisata

Alam Perkebunan Malabar yang Mempesona

Perkebunan teh Malabar tidak saja terkenal dengan produk tehnya, tapi juga keindahan pemandangan alamnya yang mempesona. Perkebunan ini, terletak 45 km disebelah selatan Kota Bandung. Dengan hamparan hijau daun teh, perkebunan Malabar terkenal di dunia sebagai teh bermutu dataran tinggi. Selain itu, di kawasan itu terdapat tempat bersejarah yaitu makam K.A.R Bosscha. Makam K.A.R. Bosscha, terletak dikawasan hutan lindung perkebunan Malabar. Kursi yang masih tampak disitu konon adalah tempat beristirahatnya setelah Ia memeriksa kebun-kebun. Kemudian, keberadaan wisma Malabar yang aslinya dibuat tahun 1894 sebagai kantor Administratur perkebunan Malabar sekaligus sebagai rumah tinggal K.A.R. Bosscha. Sementara, Wisma Melatiyang dibuat pada...

Read More

Situ Cileunca Dikelilingi Perkebunan Teh Malabar

( net )** Lokasi Situ (danau) Cileunca Pangalengan Kab. Bandung, berada 45 km sebelah selatan Kota Bandung, 185 KM dari Kota Jakarta, berada di ketinggian 1550 meter dari permukaan laut dan dikelilingi oleh dua perkebunan teh Malabar yang dikelola oleh PTPN VIII. Situ Cileunca letaknya tak jauh dari kecamatan Pangalengan, genangan air seluas 180 hektar ini diapit oleh dua Desa yaitu Desa Wanasari dan Desa Pulosari, tak jauh dari Kota Kecamatan Pangalengan. Danau buatan yang hingga kini masih bisa dinikmati keberadaannya itu, dahulunya banyak terdapat pohon Leunca karena itu disebut Situ Cileunca. Menurut sejarah, Situ Cileunca merupakan kawasan pribadi seorang warga...

Read More

Kawah Putih menyajikan pemandangan yang menawan

Kawah Putih, yang berjarak kurang lebih 46 km dari Kota Bandung Bandung  menyajikan pemandangan yang menawan. Melalui jalan yang berliku dengan pepohonan hijau di sepanjang perjalanan membuat jarak yang di tempuh tidak terasa jauh. Jarak pintu masuk sampai ke kawah sekitar hanya sekitar 5 km dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit saja. Lokasi kawah putih terletak di sebuah  Gunung Patuha, bagi masyarakat sekitar kawasan itu dinilai  angker karena banyak burung mati jika melewati kawah tersebut. Akhirnya mitos itu terpecahkan setelah seorang ilmuwan Barat,  Dr. Franz Wilhelm Junghun pada tahun 1837,  melakukan penelitian ilmiah dan menemukan bahwa keangkeran tersebut...

Read More